News Update :
Showing posts with label Tugas SMA/SMK. Show all posts
Showing posts with label Tugas SMA/SMK. Show all posts

Defenisi Emotional Labor

Penulis : kumpulan karya tulis ilmiah on Saturday, November 26, 2016 | 2:11 AM

Saturday, November 26, 2016

1. Defenisi Emotional Labor
Istilah emotional labor didefenisikan Robbin & Judge (2008) sebagai kemampuan dimana seorang karyawan memperlihatkan emosi-emosi yang diinginkan secara organisasi selama transaksi antarpersonal ditempat kerja.
Emotional Labor merupakan istilah yang relatif baru, Menurut Hochchild (1983) mengartikan konsep emotional labor sebagai “manajemen perasaan untuk menciptakan ekspresi muka dan jasmani” yang dapat dilihat secara umum. Menurut dari defenisi ini, para karyawan mengatur ekspresi emosi melalui ekspresi wajah yang mereka berikan kepada orang lain. Cara untuk melibatkan emosi untuk mengubah ekspresi. Hochchild (1983) juga mengatakan bahwa individu mengontrol emosinya dalam kehidupan pribadi dan juga dalam pekerjaan.

Emotional Labor adalah kontrol perilaku seseorang untuk menampilkan emosi yang tepat (Chu, 2002) hal ini mununjukkan bahwa seseorang harus membangkitkan atau menekan emosi tertentu sehingga harus menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial. Konsep dari emotional labor ini tidak terbatas hanya pada tempat kerja saja, ini juga akan terjadi pada setiap aspek kehidupan.

Hochschlid (2013) mendefenisikan emotional labor sebagai mengacu pada pengendalian emosi dari pekerja yang sering kontak dengan pelanggan.
Kontrol ini menghasilkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh. Organisasi dan sistem penghargaan gajinya menentukan bahwa pekerja harus mengontrol emosi mereka ditempat kerja dan mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi organisasi. Menurut Grandey (2013) bahwa emotional labor adalah proses mengatur baik perasaan dan ekspresi untuk tujuan organisasi.

Ketika personal line pertama berinteraksi dengan pelanggan, emotional labor adalah tindakan mengekspresikan emosi yang tepat, dalam tuntutan organisasi pekerja harus mengontrol perilaku mereka dan menampilkan emosi yang sesuai. Ashforth dan Humphrey (1993) mendefenisikan emotional labor sebagai tindakan menampilkan emosi yang tepat.

Berdasarkan uraian diatas, maka pengertian dari emotional labor adalah kesesuaian emosi yang berlaku bagi organisasi sesuai dengan tuntutan peran yang mengharuskan seseorang untuk menampilkan perilaku emosional yang menutupi perasaan mereka sebenarnya didalam suatu perusahaan.

2. Dimensi Emtional Labor
Menurut Robbin & Judge (2008) dimensi dari emotional labor ada dua yaitu sebagai berikut :

1. Surface Acting
Surface Acting adalah menyembunyikan perasaan terdalam seseorang dan menghilangkan ekspresi-ekspresi emosional sebagai respons terhadap aturan-aturan penampilan. Surface Acting ini mengekspresikan emosi tanpa merasa bahwa sedang emosi  (Hochschild, 1983). Surface Acting sering juga disebut dengan berpura-pura menampilkan emosi yang berbeda. Saat suasana hati sedang negative, karyawan harus bisa menampilkan wajah yang riang, senyuman, keramahaan dan emosi emosi yang positif. Surface acting berfokus pada ketidak sesuaian antara emosi yang sebenarnya dan yang ditampilkan. Surface Acting paling sering melibatkan emosi negative, seperti marah, jengkel, sedih kemudian ketika melihatkan emosi positive seperti bahagia, gembira.

2. Deep Acting
Deep Acting adalah berusaha untuk mengubah perasaan seseorang berdasarkan aturan-aturan penampilan. Deep Acting juga sering disebut dengan berupaya mengelola emosi negative menjadi benar-benar positive sehingga konsisten antara emosi yang dirasakan dan emosi yang ditampilkan atau ditunjukkan.

3. Frequency
Frequency telah menjadi dimensi yang paling penting pada emotional labor dan hal ini masih tetap merupakan indikator penting karena semakin sering sebuah organisasi atau perusahaan membutuhkan menampilkan emosi yang tepat secara sosial maka semakin besar juga permintaan tenaga kerja atau karyawan yang harus
menggunakan emotional labor.

4. Variety
Variety merupakan emosi yang sangat luas untuk diekspresikan, karena karyawan harus menampilakn berbagai macam emosi sesuai dengan aturan dari perusahaan.

5. Intensity
Setiap orang memiliki intensitas dalam mengekspresikan emosi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada individu yang hampir tidak pernah menunjukkan perasaannya, tetapi ada juga orang yang sangat emosional.

6. Dampak dari Emotional Labor
Dalam literatur emotional labor, para peneliti membahas hasil yang tidak menguntungkan. Hasil yang paling sering dikutip adalah kelelahan (Hochschild, 1983; Kahn, 1993; Morris & Feldman, 1996) dan job dissatisfaction (Morris & Feldman, 1996; Grandey, 1999; Wharton, 1993).

Emotional Labor menyebabkan peningkatan kelelahan, emosi antara karyawan dengan otonomi kerja yang rendah, masa kerja lebih lama dan bekerja dengan waktu yang lama.

Menurut Hochchild (1983) secara umum, emosi ditangani dalam kaitannya dengan emosi umum yang diharapkan oleh organisasi atau pekerjaan dari karyawan mereka. Akibatnya, perspektif ini menyatakan bahwa secara umum dapat membedakan emosi yang dirasakan oleh seorang karyawan dari emosi yang ia tampilkan, yang memiliki bentuk ekspresi wajah, gerak isyarat, nada, suara dan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan perasaan (Kurniasari, 2011). Memperlihatkan emosi yang berbeda dari apa yang seseorang rasakan meliputi pengaturan emosi, yang merupakan upaya untuk mempengaruhi emosi yang dimiliki dan bagaimana emosi ini dialami atau diekspresikan (Gronross, 1990). Aktivitas ini dianggap sebagai tugas atau pekerjaan karena karyawan dibayar atau digaji untuk menampilkan emosi terbaik mereka ketika berhadapan dengan konsumen atau orang-orang dalam organisasi dan menghasilkan keadaan emosi yang tepat.

Menurut Hochschild, (1983) dan Karabanow (1999) untuk memenuhi kebutuhan emosi organisasi, karyawan juga perlu berlatih untuk memainkan peran seperti tersenyum atau tertawa. Dengan kata lain, ketika karyawan sedang berinteraksi dengan klien atau pelanggan, karyawan harus menampilkan emosi yang diinginkan oleh perusahaan atau organisasinya. shforth dan Humphrey (1993) mengatakan bahwa emotional labor sebagai “pedang bermata dua”. Pada satu sisi emotional labor ini dapat memfasilitasi kinerja tugas dan mengatur interaksi dan mampu menghalangi masalah interpersonal. Pada sisi lain, hal ini dapat mengganggu kinerja karyawan dengan harapan dari karyawan yang tidak dapat dipenuhi. Hal ini akan berdampak pada kesejahteraan psikologis (Ashforth & Humphrey, 1993).
komentar | | Read More...

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis yaitu :
a. Usia
Ryff (1998) menemukan bahwa usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis. Peningkatan pada aspek usia yang semakin dewasa terjadi pada aspek penguasaan lingkungan, otonomi, penerimaan diri dan hubungan positif.

Sedangkan tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi akan menunjukkan penurunan yang tajam pada setiap periode kehidupan usia dewasa.

b. Gender
Perbedaan tingkat kesejahteraan psikologis antara pria dan wanita dipengaruhi oleh stereotype gender yang cenderung menggambarkan pria adalah sebagai sosok yang agresif dan mandiri sedangkan wanita adalah sosok yang pasif, sensitive terhadap perasaan orang lain dan tergantung (Papalia, Fedlman & Gross, 2001). Ryff(1989) Hal ini yang mengakibatkan sebagian besar wanita menunjukkan skor yang lebih tinggi daripada pria pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.

c. Tingkat Pendidikan
Ryff, Magee, Kling & Wling (1999) menemukan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis yang dimiliki individu. Individu yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang baik pula.

d. Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, pertumbuhan diri dan penguasan lingkungan.
Status sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis seseorang. Individu dengan tingkat pengahasilan tinggi, status menikah dan mempunyai dukungan sosial tinggi akan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi.

e. Lingkungan Pekerjaan
Fisher (1993) menyebutkan bahwa lingkungan pekerjaan, baik itu lingkungan kelompok kerja ataupun perusahaan akan menyebabkan timbulnya kebosanan. Page (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor pekerjaan seperti jam kerja, kondisi kerja, keamanan kerja, gaji akan berpengaruh terhadap kesejahteraan
psikologis seseorang.

f. Budaya
Faktor lainnya yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang adalah budaya. Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan oleh Lu (2008), budaya seseorang akan mempengaruhi cara individu tersebut memaknai kebahagiaan. Hal ini disebabkan karena budaya memegang pernanan penting dalam membentuk
cara seseorang berpikir serta cara mengatasi masalah masalah yang di dapatkan di dalam kehidupan sehari-hari.

g. Kepribadian
Kepribadian seseorang juga ternyata mempengaruhi kesejahteraan psikologis. Huppert (2009) mengemukakan bahwa kepribadian kepribadian extraversion dan neuroticism memiliki hubungan dengan kesejahteraan psikologis. Kepribadian seseorang merupakan prediktor terbesar dalam menentukan tipe emosi yang akan ia munculkan. Individu dengan kepribadian neuroticism akan selalu identik dengan tipe emosi yang negatif. Begitu juga sebaliknya, individu extraversion identik dengan emosi yang lebih positive (Diener, Lucas & Smith, 1999).

h. Relatedness
Beberapa teoritis telah mendefeniskan relatedness sebagai kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kesejateraan manusia  (Baumeister & Leary, 1995). Hubungan interpersonal dapat dikaitkan dengan relatedness dan banyak juga penelitian telah menujukkan bahwa hubungan interpersonal yang suportif, hangat
dan penuh kepercayaan akan dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang (Ryan & Deci, 2001)

Pada beberapa penelitian, telah menemukan bahwa kuantitas dari interaksi dengan orang lain tidak dapat mempredisksi kesejahteraan psikologis seseorang, melainkan kualitas interaksi dengan orang lain yang dapat memprediksi kesejahteraan psikologis (Nezlek 2000; Ryan & Deci, 2001). Menurut (Brotheridge & Grandey, 2002) komponen penting ketika karyawan yang bekerja dengan cara berinteraksi dengan orang lain adalah kontrol emosi, ini yang disebut dengan emotional labor. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa faktor relatedness ini, faktor penting untuk karyawan yang menggunakan emotional labor.

i. Marital Status
Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa individu yang telah menikah akan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi (Myers, 1999). Bierman, Milkie dan Fazio (2006) meneliti mengenai salah satu dimensi dari kesejahteraan psikologis yaitu tujuan hidup. Mereka menemukan bahwa individu yang telah menikah memiliki nilai yang lebih tinggi pada sub-skala ini dibandingkan dengan yang tidak menikah.
komentar | | Read More...

Bagian tubuh manusia dalam bahasa inggris

Penulis : kumpulan karya tulis ilmiah on Wednesday, October 5, 2016 | 5:16 AM

Wednesday, October 5, 2016

NAMA BAGIAN TUBUH DALAM BAHASA INGGRIS
PART OF THE BODY

A. Bagian Kepala (Head)
1. Rambut (Hair)
2. Jidat / Dahi (Forehead)
3. Bola Mata (Eyeball)
4. Wajah (Face)
5. Alis (Eyebrow)
6. Telinga (Ear)
7. Kelopak Mata (Eyelid)
8. Bulu Mata (Eyelash)
9. Hidung (Nose)
10. Lubang Hidung (Nostril)
11. Lesung Pipi (Dimple)
12. Pipi (Cheek)
13. Dagu (Chin)
14. Kumis (Mustache)
15. Jenggot (Beard)
16. Mulut (Mouth)
17. Lidah (Tongue)
18. Gigi (Tooth)
19. Bibir (Lip)
20. Gusi (Gum)

B. Bagian Badan Atas (Upper Body)
1. Leher (Neck)

2. Jakun (Adam's Apple)
3. Pundak / Bahu (Shoulder)
4. Tenggorokan (Throat)
5. Dada (Chest)
6. Perut (Stomach)
7. Udel / Pusar (Belly Button)
8. Punggung (Back)
9. Puting (Nipple)
10. Payudara (Breast)
11. Rusuk / Iga (Rib)

C. Bagian Badan Bawah (Lower Body)
1. Pinggang (Waist)
2. Panggul (Hip)
3. Bokong / Pantat (Ass)
4. Kemaluan (Genitals)
5. Kemaluan Laki-Laki (Penis)
6. Kemaluan Perempuan (Vagina)
7. Dubur (Rectum / Anus)
8. Buah Pelir (Testicles)

D. Bagian Tangan (Hand)
1. Ketiak (Armpit)
2. Lengan Atas (Upperarm)
3. Siku (Elbow)
4. Lengan Bawah (Forearm)
5. Telapak Tangan (Palm)
6. Ibu Jari / Jempol (Thumb)
7. Jari Telunjuk (Fore Finger)
8. Jari Tengah (Middle Finger)
9. Jari Manis (Ring Finger)
10. Jari Kelingking (Little Finger)
11. Bulu Ketek (Underarm Hair)
12. Kuku (Nail)
13. Pergelangan Tangan (Wrist)

E. Bagian Kaki (Leg)
1. Paha (Thigh)
2. Lutut (Knee)
3. Betis (Calf)
4. Mata Kaki (Angkle)
5. Telapak Kaki (Sole)
6. Punggung Kaki (Instep)
7. Tumit (Heel)
8. Jari Kaki (Toes)

F. Bagian Umum
1. Kulit (Skin)
2. Bulu (Hair)
3. Pori-Pori (Pore)

G. Bagian Dalam
1. Otak (Brain)
2. Darah (Blood)
3. Daging (Flesh)
4. Tulang (Bone)
5. Otot (Muscle)
6. Usus (Gut)
7. Jantung (Heart)
8. Paru-Paru (Lungs)
9. Lambung (Gastric)
10. Ginjal (kidney)
11. Hati (Liver)
12. Pankreas (Pancreas)
Gambar 

komentar | | Read More...
 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger