News Update :
Showing posts with label kedokteran. Show all posts
Showing posts with label kedokteran. Show all posts

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Dasar Mobilitas

Penulis : kumpulan karya tulis ilmiah on Monday, February 1, 2016 | 4:59 AM

Monday, February 1, 2016

1. Pengkajian
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi diperlukan untuk meninngkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya dalam waktu 12 jam (Mubarak, 2008).

Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya (Hidayat, 2006).
Pengkajian pada masalah pemenuhan kebutuhan mobilisasi adalah sebagai berikut (Hidayat 2006):

1. Identitas
Pengkajian identitas klien meliputi: nama, jenis kelamin, umur, agama, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, alamat.

2. Riwayat Keperawatan Sekarang
Pengkajian riwayat pasien saat ini meliputi alasan pasien yang menyebabkan terjadi keluhan/gangguan dalam mobilisasi, seperti adanya nyeri, kelemahan otot kelelahan, tingkat mobilitas, daerah terganggunya mobilitas, dan lama terjadinya gangguan mobilitas.

3. Riwayat Keperawatan Penyakit yang Pernah Diderita
Pengkajian riwayat penyakit yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mobilitas, misalnya adanya riwayat penyakit neurologis (kecelakaan, serebrovaskuler, trauma kepala, peningkatan tekanan intrakranial, miastenia gravis, guillain barre, cedera medula spinalis, dll), riwayat kardiovaskuler (infark miokard, gagal jantung kongestif), riwayat penyakit sistem muskuloskeletal (osteoporosis, fraktur, artritis), riwayat penyakit sistem

komentar | | Read More...

Fungsi Ginjal Manusia

Penulis : kumpulan karya tulis ilmiah on Monday, October 12, 2015 | 4:55 AM

Monday, October 12, 2015

Ginjal Manusia : Anatomi ginjal Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di retroperitoneal bagian atas. Bentuknya seperti bentuk kacang dan sisinya cekung menghadap ke medial. Ia terletak tepat di bawah tulang rusuk. Setiap hari, ginjal seseorang menyaring sekitar 120 hingga 150 liter darah untuk menghasilkan sekitar 1 sampai 2 liter produk limbah dan cairan ekstra. Limbah dan cairan ekstra menjadi urin, yang mengalir ke kandung kemih melalui tabung yang disebut ureter. Kandung kemih menyimpan urin sampai melepaskannya melalui buang air kecil. Saiz dan berat ginjal berivariasi tergantung pada jenis kelamin,umur dan lain lain lagi. Biasanya, ginjal pada laki laki lebih besar dari ginjal pada perempuan. Lokasi ginjal bagian kanan akan lebih rendah daripada ginjal kiri (Basuki B.Purnomo, 2011).

Di margin medial cekung setiap ginjal adalah celah vertikal, hilum.structures ginjal yang berfungsi ginjal (pembuluh, saraf dan struktur yang mengalirkan urin dari ginjal) masuk dan keluar ginjal melalui ginjal hilum. Setiap ginjal memiliki permukaan anterior dan permukaan posterior , margin lateral dan medial dan kutub superior dan inferior. Namun karena penonjolan tulang punggung lumbar ke dalam rongga perut, ginjal miring ditempatkan, tergeletak pada sudut satu sama lain. Margin lateral ginjal berbentuk konvex manakala margin medial ginjal berbentuk konkave. Renal pelvis dan renal sinus terlokasi pada margin ini. Pembentukan konkave dan convex inilah memberi bentuk kacang pada ginjal manusia(Keith L.Moore,2008).

Pelvis ginjal mempunyai struktur yang rata, funnel shaped expansion of the superior end of the ureter. Apex renal pelvis berkesinambungan dengan ureter. Pelvis ginjal menerima dua atau tiga kalises utama (calyces), yang masing-masing dibagi kepada dua atau tiga calises minor. Setiap calyx minor indentasi oleh renal papilla di mana urin diekskresikan. Biasanya renal pelvis dan calices kosong pada orang normal (Anne M.R. Agur,2008).

Gambar 2.1 : Anatomi Ginjal(Medscape,2013) 
Suplai darah untuk ginjal adalah dari arteri renalis dan vena renalis. Arteri renalis bercabang dari aorta abdominalis manakala vena renalis bermuara ke dalam vena kava inferior. Hilus renalis merupakan tempat masuk dan keluar darah melalui vena renalis dan ateri renalis. Sistem vena pada bagian kiri adalah sedikit berbeda dari sistem vena di sebelah kanan karena vena dari gonad (testis dan ovari) bermuara pada vena renalis kiri. Pembuluh darah pada ginjal bercabang dari besar menjadi kecil yang bermula dari aorta abdominalis bercabang menjadi arteri renalis yang kemudian menjadi arteri segmentalis dan kemudiannya menjadi arteri interlobaris dan arteri arcuate. Sistem arteri ginjal adalah end arteries yang bermaksud tidak anastomosis dengan cabang dari arteri lain(Gerard J.Tortora,2011).

Interstitium meduler adalah ruang fungsional dalam ginjal di bawah filter individu (glomeruli), yang kaya akan pembuluh darah. Interstitium menyerap cairan pulih dari urin. Berbagai kondisi dapat menyebabkan jaringan parut dan kemacetan dari daerah ini, yang dapat menyebabkan disfungsi ginjal dan gagal. Setelah penyaringan terjadi pengaliran darah melalui jaringan kecil venula yang menyatu ke dalam pembuluh darah interlobular. Seperti dengan distribusi arteri vena mengikuti pola yang sama, maka interlobular memberikan darah ke vena arkuata kemudian kembali ke vena interlobar, yang datang untuk membentuk vena renalis keluar ginjal untuk transfusi darah (Keith L.Moore,2008).
Gambar 2.2 : Vaskularisasi ginjal(Scripps Health,2014)

Fungsi Ginjal 
Alat ekskresi utama dalam tubuh kita adalah ginjal. Maka ekskresi merupakan fungsi utama ginjal. Fungsi utama ginjal adalah mengekskresi bahan limbah dari darah dalam bentuk urin. Pembentukan urin penting dalam menjaga homeostasis tubuh. Urin terbentuk melalui 3 proses utama iaitu filtrasi yang berlaku pada bagian glomerulus dan Bowman’s capsule, sekresi dan reabsorpsi. Kemudian cairan tersebut akan disalurkan ke kalises dan seterusnya ke pelvis ginjal untuk disalurkan ke ureter. Secara ringkas fungsi ginjal dapt dibagikan kepada dua iaitu fungsi ekskresi dan fungsi non ekskresi(Gerard J.Tortora,2011). 

Fungsi ekskresinya ialah menyaring limbah dari darah iaitu melalui urin. Seterusnya ginjal juga regulating water fluid level dalam tubuh kita. Ginjal mengatur level ini dengan mengkontrol sekresi hormon ADH(Aldrosterone Diuretic Hormone) dan aldostrone. Ginjal juga menjaga keseimbangan asam basa dan elektrolit yang dikontrol oleh kompleks sistem buffer. Selain itu, ginjal juga mempertahankan pH plasma sekitar 7,4(Basuki B.Purnomo,2011). 

Ginjal mengsekresi 3 hormon yang penting iaitu eritropoiten,renin dan calcitrol. Eritropoiten penting dalam pembentukan sel darah merah di sumsum tulang(Dany Hilmanto,2002). Sekresi eritropoiten akan merangsang sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah dan secara tidak langsung ia menjaga kadar oksigen dalam darah. Hormon renin penting untuk meregulasi tekanan darah. Seterusnya hormon calcitrol disekresikan oleh ginjal merupakan vitamin D yang aktif yang mengkontrol kadar kalsium darah yang dibutuhkan oleh tulang dalam tubuh kita(Basuki B.Purnomo,2011).
komentar | | Read More...

PENYAKIT JAMUR

Penulis : kumpulan karya tulis ilmiah on Sunday, October 11, 2015 | 10:07 PM

Sunday, October 11, 2015

Definisi Jamur : Mikologi berasal dari bahasa Yunani mykes=jamur dan logos=ilmu. Menurut Alexopoulos et al. (1996) dalam Gandjar (2006), sebenarnya istilah mikologi kurang tepat. Istilah yang tepat adalah mycetology, karena mykes berdasarkan tatabahasa Yunani adalah myceto. Fungi dalam bahasa Latin juga berarti jamur. Jamur merupakan mikroorganisme eukaryotik dengan tingkat biologisnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan bakteri. Habitat hidupnya terutama di alam seperti air dan tanah sebagai jamur saprofit. Kehidupan jamur memerlukan suasana lingkungan dengan kelembapan yang tinggi. Meskipun demikian jamur dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan, sehingga jamur dapat hidup di gurun pasir yang kering dan panas (Kumala, 2006).

Morfologi dan Struktur Jamur
Menurut Brooks dkk (2005), jamur tumbuh dalam dua bentuk dasar, sebagai yeast/ragi dan molds. Pertumbuhan dalam bentuk mold adalah dengan produksi koloni filamentosa multiseluler. Koloni ini mengandung tubulus silindris yang bercabang yang disebut hifa, diameternya bervariasi dari 2-10 μm. Massa hifa yang jalin-menjalin dan berakumulasi selama pertumbuhan aktif adalah miselium. Beberapa hifa terbagi menjadi sel-sel oleh dinding pemisah atau septa, yang secara khas terbentuk pada interval yang teratur selama pertumbuhan hifa. Hifa yang menembus medium penyangga dan mengabsorbsi bahan-bahan makanan adalah hifa vegetatif atau hifa substrat. Sebaliknya, hifa aerial menyembul di atas permukaan miselium dan biasanya membawa struktur reproduktif dari mold.
Ragi adalah sel tunggal, biasanya berbentuk bulat atau elips dan diameternya bervariasi dari 3-15 μm. Kebanyakan ragi bereproduksi melalui pertunasan. Beberapa spesies menghasilkan tunas yang mempunyai ciri khas gagal melepaskan diri dan menjadi memanjang; kesinambungan dari proses pertunasan kemudian menghasilkan suatu sel ragi panjang yang disebut pseudohifa (Brooks dkk, 2005).
Semua jamur mempunyai dinding sel kaku yang penting untuk menentukan bentuknya. Dinding-dinding sel sebagian besar terbentuk oleh lapisan karbohidrat, rantai-rantai panjang polisakarida, juga glikoprotein dan lipid. Selama infeksi, dinding sel jamur mempunyai sifat-sifat patobiologi yang penting. Komponen permukaan dinding memperantai penempelan jamur pada sel inang. Beberapa ragi dan mold memberi melanin pada dinding sel, memberikan pigmen coklat atau hitam. Jamur yang demikian adalah dematiaceous. Dalam beberapa penelitian, melanin berhubungan dengan virulensi (Brooks dkk, 2005).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Jamur
Setiap mikroorganisme mempunyai kurva pertumbuhan, begitu pula fungi. Kurva tersebut diperoleh dari menghitung massa sel pada kapang atau kekeruhan media pada khamir dalam waktu tertentu. Kurva pertumbuhan mempunyai beberapa fase (Gandjar, 2006) antara lain :
  1. Fase lag, yaitu fase penyesuaian sel-sel dengan lingkungan, pembentukan enzim-enzim untuk mengurai substrat;
  2. fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan fase lag menjadi fase aktif;
  3. fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat banyak, aktivitas sel sangat meningkat, dan fase ini merupakan fase yang penting dalam kehidupan fungi. Pada awal dari fase ini kita dapat memanen enzim-enzim dan pada akhir dari fase ini atau;
  4. fase deselerasi (Moore-Landecker, 1996 dalam Gandjar, 2006), yaitu waktu sel-sel mulai kurang aktif membelah, kita dapat memanen biomassa sel atau senyawa-senyawa yang tidak lagi diperlukan oleh sel-sel;
  5. fase stasioner, yaitu fase jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel yang mati relatif seimbang. Kurva pada fase ini merupakan garis lurus yang horizontal. Banyak senyawa metabolit sekunder dapat dipanen pada fase stasioner;
  6. fase kematian dipercepat, jumlah sel-sel yang mati atau tidak aktif sama sekali lebih banyak daripada sel-sel yang masih hidup.
Pada umumnya pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh (Gandjar, 2006):
1. Substrat
Substrat merupakan sumber nutrien utama bagi fungi. Nutrien-nutrien baru dapat dimanfaatkan sesudah fungi mengekskresi enzim-enzim ekstraselular yang dapat mengurai senyawa-senyawa kompleks dari substrat tersebut menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Misalnya, apabila substratnya nasi, atau singkong, atau kentang, maka fungi tersebut harus mampu mengekskresikan enzim α-amilase untuk mengubah amilum menjadi glukosa. Senyawa glukosa tersebut yang kemudian diserap oleh fungi. Apabila substratnya daging, maka fungi tersebut harus mengeluarkan enzim yang proteolitik untuk dapat menyerap senyawa asam-asam amino hasil uraian protein. Contoh yang lain lagi, misalnya substratnya berkadar lemak tinggi, maka fungi tersebut harus mampu menghasilkan lipase agar senyawa asam lemak hasil uraian dapat diserap ke dalam tubuhnya. Fungi yang tidak dapat menghasilkan enzim sesuai komposisi substrat dengan sendirinya tidak dapat memanfaatkan nutrien-nutrien dalam substrat tersebut.

2. Kelembapan
Faktor ini sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Pada umumnya fungi tingkat rendah seperti Rhizopus atau Mucor memerlukan lingkungan dengan kelembapan nisbi 90%, sedangkan kapang Aspergillus, Penicillium, Fusarium, dan banyak hyphomycetes lainnya dapat hidup pada kelembapan nisbi yang lebih rendah, yaitu 80%. Fungi yang tergolong xerofilik tahan hidup pada kelembapan 70%, misalnya Wallemia sebi, Aspergillus glaucus, banyak strain Aspergillus tamarii dan A. Flavus (Santoso et al., 1998 dalam Gandjar, 2006). Dengan mengetahui sifat-sifat fungi ini penyimpanan bahan pangan dan materi lainnya dapat dicegah kerusakannya.

3. Suhu
Berdasarkan kisaran suhu lingkungan yang baik untuk pertumbuhan, fungi dapat dikelompokkan sebagai fungi psikrofil, mesofil, dan termofil. Fungi psikofril adalah fungi yang dengan kemampuan untuk tumbuh pada atau optimum 400C dan suhu maksimum 50-600C. Contohnya Aspergillus fumigatus yang hidup pada suhu 12-550C. Mengetahui kisaran suhu pertumbuhan suatu fungi adalah sangat penting, terutama bila isolat-isolat tertentu akan digunakan di industri. Misalnya, fungi yang termofil atau termotoleran (Candida tropicalis, Paecilomyces variotii, dan Mucor miehei), dapat memberikan produk yang optimal meskipun terjadi peningkatan suhu, karena metabolisme funginya, sehingga industri tidak memerlukan penambahan alat pendingin.

4. Derajat keasaman lingkungan
pH substrat sangat penting untuk pertumbuhan fungi, karena enzim-enzim tertentu hanya akan mengurai suatu substrat sesuai dengan aktivitasnya pada pH tertentu. Umumnya fungi menyenangi pH di bawah 7.0. Jenis-jenis khamir tertentu bahkan tumbuh pada pH yang cukup rendah, yaitu pH 4.5-5.5. Mengetahui sifat tersebut adalah sangat penting untuk industri agar fungi yang ditumbuhkan menghasilkan produk yang optimal, misalnya pada produksi asam sitrat, produksi kefir, produksi enzim protease-asam, produksi antibiotik, dan juga untuk mencegah pembusukan bahan pangan. yang dapat merapuhkan tekstil, atau meninggalkan noda-noda hitam akibat sporulasi yang terjadi, sehingga menurunkan kualitas bahan tersebut.
Selama pertumbuhannya fungi menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak diperlukannya lagi dan dikeluarkan ke lingkungan. Senyawa-senyawa tersebut merupakan suatu pengaman pada dirinya terhadap serangan oleh mikroorganisme lain termasuk terhadap sesama mikroorganisme. Manusia memanfaatkan senyawa-senyawa tersebut, yang kita kenal sebagai antibiotik, untuk mencegah berbagai penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme (Gandjar, 2006).


Teori Simpul
Gambar 1. Teori Simpul Penyakit yang Disebabkan Jamur Candida albicans dan Aspergillus spp. pada Pakaian Bekas

Dalam proses kejadian penyakit, termasuk penyakit menular, pada hakikatnya dapat diuraikan dalam empat simpul (Anies, 2006). Simpul 1 yaitu sumber penyakit. Sumber penyakit adalah titik yang menyimpan dan/atau menggandakan agen penyakit serta mengeluarkan atau mengemisikan agen penyakit. Agen penyakit adalah komponen lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan penyakit melalui media perantara (yang juga komponen lingkungan) (Achmadi, 2013). Dalam hal ini, simpul 1 berupa jamur yang terdapat pada pakaian bekas, diantaranya jamur Candida albicans dan Aspergillus spp.

Simpul 2 yaitu media transmisi penyakit. Media transmisi penyakit yaitu komponen lingkungan yang dapat memindahkan agen penyakit. Media transmisi tidak akan memiliki potensi penyakit kalau di dalamnya tidak mengandung agen penyakit (Achmadi, 2013). Dalam hal ini, simpul 2 berupa udara dan pakaian yang mengandung bakteri yang berasal manusia.

Simpul 3 yaitu perilaku pemajanan. Hubungan interaktif antara komponen lingkungan dengan penduduk berikut perilakunya, dapat diukur dengan konsep yang disebut sebagai perilaku pemajanan atau behavioral exposure. Perilaku pemajanan adalah jumlah kontak antara manusia dengan komponen lingkungan yang mengandung potensi bahaya penyakit (agen penyakit) (Achmadi, 2013). Dalam hal ini, simpul 3 berupa pengetahuan, perilaku, pekerjaan, dan lokasi penduduk.
Simpul 4 yaitu kejadian penyakit. Kejadian penyakit merupakan outcome hubungan interaktif antara penduduk dengan lingkungan yang memiliki potensi bahaya gangguan kesehatan. Manifestasi dampak akibat hubungan antara

penduduk dengan lingkungan menghasilkan penyakit pada penduduk (Achmadi, 2013).

Penyakit yang Disebabkan Jamur
Penyakit yang disebabkan jamur pada manusia disebut mikosis. Menurut Entjang (2003), penyakit-penyakit yang disebabkan jamur yaitu:
  1. Tinea versicolor (panu) yaitu mikosis superfisial dengan gejala berupa macula (bercak) putih kekuning-kuningan disertai rasa gatal, biasanya pada kulit dada, bahu, punggung, axilla, leher dan perut bagian atas. Pada penyembuhan, daerah yang terkena biasanya mengalami depigmentasi dalam waktu yang cukup lama. Penyakit ini disebabkan Malassezia furfur.
  2. Tinea cruris yaitu mikosis superfisial yang mengenai paha bagian atas sebelah dalam. Pada kasus yang berat dapat pula mengenai kulit sekitarnya, daerah scrotum, perineum, perut dan ketiak. Penyakit ini disebabkan Epidermophyton floccosum atau Trichophyton sp.
  3. Tinea circinata (tinea corporis) yaitu mikosis superfisial berbentuk bulat-bulat (cincin) dimana terjadinya jaringan granulamatous, pengelupasan lesi kulit disertai rasa gatal. Gejala penyakitnya bermula berupa papula kemerahan yang melebar ke arah luar sedang bagian tengahnya membaik, pinggirnya agak menonjol dan berwarna merah. Penyakit ini disebabkan Mycrosporum sp. dan Trichophyton sp.
  4. Nocardiosis yaitu mikosis yang menyerang jaringan subkutan dimana terjadi pembengkakan jaringan yang terkena dan terjadinya lubang-lubang yang mengeluarkan nanah dan jamurnya berupa granula. Penyakit ini disebabkan Nocardia asteroides.
  5. Candidiasis yaitu mikosis yang menyerang kulit, kuku, selaput lendir mulut, vagina dan organ tubuh seperti ginjal, jantung dan paru-paru. Penyakit ini disebabkan Candida albicans.
  6. Sporotrichosis yaitu mikosis yang mengenai kulit dan kelenjar lympha superfisial dengan gejala benjolan (nodul) di bawah kulit kemudian membesar, merah, meradang, proses nekrosis kemudian terbentuk ulcus. Nodula yang sama terjadi sepanjang pembuluh lympha regional dan terjadi ulcus-ulcus berikutnya. Penyakit ini disebabkan Sporotrichum schenckii.
  7. Blastomycosis yaitu mikosis yang menyerang kulit, paru-paru, viscera tulang dan sistem syaraf dengan gejala berupa papula atau pustula yang berkembang menjadi ulcus kronik dengan jaringan granulasi pada alasnya. Penyakit ini disebabkan Blastomyces dermatitidis dan Blastomyces brasieliensis.
  8. Aspergillosis yaitu infeksi oputunistik yang paling sering terjadi pada paru-paru dengan gejala yang mirip dengan TB paru. Penyakit ini disebabkan Aspergillus spp. terutama Aspergillus fumigatus (Rusdi, 2013).
Gambar 2. Badan penderita Tinea versicolor (panu) (Sumber: Siregar, 2004)
 
Gambar 3. Tangan penderita sporotrichosis (Sumber: Siregar, 2004) Universitas Sumatera
komentar | | Read More...

IBU DENGAN HEPATITIS B

Penulis : Unknown on Friday, June 21, 2013 | 11:17 AM

Friday, June 21, 2013

IBU DENGAN HEPATITIS B 
Indonesia masih merupakan negara endemis tinggi untuk Hepatitis B, di dalam populasi, angka prevalensi berkisar 7-10%. Pada ibu hamil yang menderita Hepatitis B, transmisi vertikal dari ibu ke bayinya sangat mungkin terjadi, apalagi dengan hasil pemeriksaan darah HbsAg positif untuk jangka waktu 6 bulan, atau tetap positif selama kehamilan dan pada saat proses persalinan, maka resiko mendapat infeksi hepatitis kronis pada bayinya sebesar 80 sampai 95%. Perlu adanya komunikasi aktip antara ibu, dengan dokter kandungan, dokter anak, atau dengan bidan penolong agar memanajemen terhadap BBL dapat segera dimulai. 



Definisi / Batasan Operasional (1,2,3,4,5,6) 

Kriteria ibu mengidap atau menderita hepatitis B kronik : 
Bila ibu mengidap HBsAg positif untuk jangka waktu lebih dari 6 bulan dan tetap positif selama masa kehamilan dan melahirkan. (1,3,4) 
Bila status HbsAg positif tidak disertai dengan peningkatan SGOT/PT maka, status ibu adalah pengidap hepatitis B. (1,5) 
Bila disertai dengan peningkatan SGOT/PT pada lebih dari kali pemeriksaan dengan interval pemeriksaan @ 2-3 bulan, maka status ibu adalah penderita hepatitis B kronik. (5) 
Status HbsAg positif tersebut dapat disertai dengan atau tanpa HBeAg positif.(1,5) 

PENGELOLAAN BAYI BARU LAHIR DENGAN IBU HEPATITIS B 
Penanganan secara multidisipliner antara dokter spesialis penyakit dalam, spesialis kebidanan & kandungan dan spesialis anak. Satu minggu sebelum taksiran partus, dokter spesialis anak mengusahakan vaksin hepatitis B rekombinan dan imunoglobulin hepatitis B. Pada saat partus, dokter spesialis anak ikut mendampingi, apabila ibu hamil ingin persalinan diltolong bidan, hendaknya bidan diberitahukan masalah ibu tersebut, agar bidan dapat juga memberikan imunisasi yang diperlukan. 

Ibu yang menderita hepatitis akut atau test serologis HBsAg positif, dapat menularkan hepatitis B pada bayinya : 
  • Berikan dosis awal Vaksin Hepatitis B (VHB) 0,5 ml segera setelah lahir, seyogyanya dalam 12 jam sesudah lahir disusul dosis ke-2, dan ke-3 sesuai dengan jadwal imunisasi hepatitis. 
  • Bila tersedia pada saat yang sama beri Imunoglobulin Hepatitis B 200 IU IM (0,5 ml) disuntikkan pada paha yang lainnya, dalam waktu 24 jam sesudah lahir (sebaiknya dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir). 
  • Mengingat mahalnya harga immunoglobulin hepatitis B, maka bila orang tua tidak mempunyai biaya, dilandaskan pada beberapa penelitian, pembelian HBIg tersebut tidak dipaksakan. Dengan catatan, imunisai aktif hepatitis B tetap diberikan secepatnya. 
  • Yakinkan ibu untuk tetap menyusui dengan ASI, apabila vaksin diatas sudah diberikan (Rekomendasi CDC), tapi apabila ada luka pada puting susu dan ibu mengalami Hepatitis Akut, sebaiknya tidak diberikan ASI. 
Tatalaksana khusus sesudah periode perinatal : 
a. Dilakukan pemeriksaan anti HBs dan HbaAg berkala pada usia 7 bulan (satu bulan setelah penyuntikan vaksin hepatitis B ketiga) 1, 3, 5 tahun dan selanjutnya setiap 1 tahun. (7,9) 
  1. Bila pada usia 7 bulan tersebut anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan ulang anti HBs dan HBsAg pada usia 1, 3, 5 dan 10 tahun. (7,9) 
  2. Bila anti HBs dan HBsAg negatif, diberikan satu kali tambahan dosis vaksinasi dan satu bulan kemudian diulang pemeriksaan anti HBs. Bila anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan yang sama pada usia 1, 3, dan 5 tahun seperti pada butir a. (8,9) 
  3. Bila pasca vaksinasi tambahan tersebut anti HBs dan HBsAg tetap negatif, bayi dinyatakan sebagai non responders dan memerlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak akan dibahas pada makalah ini karena terlalu teknis. (10) 
  4. Bila pada usia 7 bulan anti HBs negatif dan HBsAg positif, dilakukan pemeriksaan HBsAg ulangan 6 bulan kemudian. Bila masih positif, dianggap sebagai hepatitis kronis dan dilakukan pemeriksaan SGOT/PT, USG hati, alfa feto protein, dan HBsAg, idealnya disertai dengan pemeriksaan HBV-DNA setiap 1-2 tahun. (1,4,5) 
b. Bila HBsAg positif selama 6 bulan, dilakukan pemeriksaan SGOT/PT setiap 2-3 bulan. Bila SGOT/PT meningkat pada lebih dari 2 kali pemeriksaan dengan interval waktu 2-3 bulan, pertimbangkan terapi anti virus. 

Tatalaksana umum 
Pemantauan tumbuh-kembang, gizi, serta pemberian imunisasi, dilakukan sebagaimana halnya dengan pemantauan terhadap bayi normal lainnya. 

Pada HCV sebaiknya tidak memberikan ASI karena 20 % ibu dengan Hepatitis C ditemukan Virus dalam kolostrumnya. Pada penelitian Kumal dan Shahul, ditemukan infeksi HCV pada bayi yang tidak mengandung HCV RNA padahal bayi-bayi tersebut mendapat ASI eksklusif dari Ibu dengan HCV. �  S 0�� � erif"'>Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kepada neonatus (0-28 hari). Dalam pelayanan kesehatan neonatus, petugas selain melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga memberikan konseling perawatan bayi kepada ibu.

Cakupan Kunjungan Neonatus secara keseluruhan di Propinsi Kalimantan Tengah tahun 2005 sebesar 83,12% dari seluruh neonatus 42.477, berarti masih ada 16,88 % neonatus yang tidak melakukan kunjungan kedua ke sarana pelayanan kesehatan. Ditinjau menurut kabupaten / kota maka ada 2 kabupaten yang cakupan kunjungan neonatusnya melebihi atau sama dengan target Kunjungan Neonatus Indonesia Sehat 2010 yaitu Kabupaten Barito Timur 101,66% dan Kabupaten Murung Raya sebesar 100% (Tabel SPM 2). 

e. Kunjungan Bayi 
Dari hasil kompilasi data profil kesehatan kabupaten/ kota tahun 2005 cakupan kunjungan bayi di Propinsi Kalimantan Tengah sebesar 78,05% (37.205) dari 47.669 jumlah bayi. Namun data ini belum mencakup semua kunjungan bayi yang melakukan kunjungan ke sarana pelayanan swasta. Untuk mengetahui kunjungan bayi secara detail terdapat pada tabel SPM 2. 

2. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah, Usia Sekolah dan Remaja 
Pelayanan kesehatan pada kelompok anak pra sekolah, usia sekolah dan remaja dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah, pemeriksaan anak sekolah/ sederajat, serta pelayanan kesehatan remaja, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS dan dokter kecil. 

Dari hasil pengumpulan data/ indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari 14 kabupaten/ kota menunjukkan cakupan deteksi tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah sebesar 22,09%, siswa SD/ MI yang diperiksa sebesar 53,96% dan pelayanan kesehatan remaja sebesar 61,69% (Tabel SPM 3). 

3. Pelayanan Keluarga Berencana 
Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) menurut hasil kompilasi data Profil Kesehatan Kabupaten/ Kota Tahun 2005 sebesar 310.810, sedangkan yang menjadi peserta KB aktif sebesar 238.463 (76,72%), dengan cakupan terendah di Kabupaten Sukamara (62,96%) dan cakupan tertinggi di Kabupaten Barito Selatan (83,12%), namun bila dibandingkan dengan target Indonesia Sehat 2010 sebesar 70% maka Propinsi Kalimantan Tengah sudah bisa melewati target tersebut (Tabel SPM 4) 

4. Pelayanan Imunisasi 
Pencapaian Universal Child Immunization pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I. 

Indikator program imunisasi yang digunakan untuk mengukur pencapaian Indonesia Sehat 2010 adalah persentase desa yang mencapai UCI. Dari 1.348 desa yang ada di Propinsi Kalimantan Tengah dilaporkan 870 desa (64,54%) telah UCI, dengan cakupan terendah di Kabupaten Gunung Mas (26,73%) dan cakupan tertinggi di Kabupaten Sukamara (87,50%). Rendahnya cakupan UCI antara lain karena tingginya angka Drop Out (DO) terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau (sangat terpencil). 

Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT (3 kali), Polio (4 kali), Hepatitis B ( 3 kali ) dan imunisasi Campak ( 1 kali ), yang dilaksanakan melalui pelayanan rutin di Posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Cakupan imunisasi BCG (83,57%), DPT 1 (77,42%), DPT 3 (73,51%) dan Hepatitis B (68,27%). Dari data tersebut kelihatan masih terdapat drop out (DO) sebesar 5,05%. 

Selain imunisasi kepada bayi, imunisasi juga diberikan pada calon pengantin perempuan yaitu imunisasi TT sebanyak 2 kali demikian juga untuk ibu hamil sebanyak 2 kali selama kehamilan. Cakupan imunisasi TT 1 sebesar 68,1% dan TT2 sebesar 63,3% dari jumlah ibu hamil sebanyak 53.820 (Tabel IIS 21).
komentar | | Read More...

Obat Anestetik inhalasi

Penulis : Unknown on Thursday, June 20, 2013 | 11:03 AM

Thursday, June 20, 2013

Obat Anestetik inhalasi
1. Halothan/fluothan
v  Tidak berwarna, mudah menguap
v  Tidak mudah terbakar/meledak
v  Berbau harum tetapi mudah terurai cahaya
Efek:
v  Tidak merangsang traktus respiratorius
v  Depresi nafas Þ stadium analgetik
v  Menghambat salivasi
v  Nadi cepat, ekskresi airmata
v  Hipnotik kuat, analgetik kurang baik, relaksasi cukup
v  Mencegah terjadinya spasme laring dan bronchus
v  Depresi otot jantung Þ aritmia (sensitisasi terhadap epinefrin)
v  Depresi otot polos pembuluh darah Þ vasodilatasi Þ hipotensi
v  Vasodilatasi pembuluh darah otak
v  Sensitisasi jantung terhadap katekolamin
v  Meningkatkan aktivitas vagal à vagal refleks
v  Pemberian berulang (1-3 bulan) à kerusakan hepar (immune-mediated hepatitis)
v  Menghambat kontraksi otot rahim
v  Absorbsi & ekskresi obat oleh paru, sebagian kecil dimetabolisme tubuh
v  Dapat digunakan sebagai obat induksi dan obat maintenance
Keuntungan
ž  cepat tidur
ž  Tidak merangsang saluran napas
ž  Salivasi tidak banyak
ž  Bronkhodilator à obat pilihan untuk asma bronkhiale
ž  Waktu pemulihan cepat (1 jam post anestesi)
ž  Kadang tidak mual & tidak muntah, penderita sadar dalam kondisi yang enak
Kerugian
ž  overdosis
ž  Perlu obat tambahan selama anestesi
ž  Hipotensi karena depresi miokard & vasodilatasi
ž  aritmia jantung
ž  Sifat analgetik ringan
ž  Cukup mahal
ž  Dosis dapat kurang sesuai akibat penyusutan

2. Nitrogen Oksida  (N2O)
  • gas yang berbau, berpotensi rendah (MAC 104%), tidak mudah terbakar dan relatif tidak larut dalam darah.
Efek:
  • Analgesik sangat kuat setara morfin
  • Hipnotik sangat lemah
  • Tidak ada sifa relaksasi sama sekali
  • Pemberian anestesia dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%. à Bila murni N2O = depresi dan dilatasi jantung serta merusak SSP
  • jarang digunakan sendirian tetapi dikombinasi dengan salah satu cairan anestetik lain seperti halotan dan sebagainya.
3. Eter
-          tidak berwarna, sangat mudah menguap dan terbakar, bau sangat merangsang
-          iritasi saluran nafas dan sekresi kelenjar bronkus
-          margin safety sangat luas
-          murah
-          analgesi sangat kuat
-          sedatif dan relaksasi baik
-          memenuhi trias anestesi
-          teknik sederhana

4. Enfluran
  • isomer isofluran
  • tidak mudah terbakar, namun berbau.
  • Dengan dosis tinggi diduga menimbulkan aktivitas gelombang otak seperti kejang (pada EEG).
  • Efek depresi nafas dan depresi sirkulasi lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih iritatif dibanding halotan.  

5. Isofluran
  • cairan bening, berbau sangat kuat, tidak mudah terbakar dalam suhu kamar
  • menempati urutan ke-2, dimana stabilitasnya tinggi dan tahan terhadap penyimpanan sampai dengan 5 tahun atau paparan sinar matahari.
  • Dosis pelumpuh otot dapat dikurangi sampai 1/3 dosis jika pakai isofluran
6. Sevofluran
  • tidak terlalu berbau (tidak menusuk), efek bronkodilator sehingga banyak dipilih untuk induksi melalui sungkup wajah  pada anak dan orang dewasa.
  • tidak pernah dilaporkan kejadian immune-mediated hepatitis
C.    Obat Muscle Relaxant
ž  Bekerja pd otot bergaris à terjadi kelumpuhan otot napas & otot-otot mandibula, otot intercostalis, otot-otot abdominalis & relaksasi otot-otot ekstremitas.
ž  Bekerja pertama: kelumpuhan otot mata àekstremitas à mandibula àintercostalis àabdominal àdiafragma.
ž  Pd pemberian pastikan penderita dapat diberi napas buatan.
ž  Obat ini membantu pd operasi khusus spt operasi perut agar organ abdominal tdk keluar & terjadi relaksasi
ž  Terbagi dua: Non depolarisasi, dan depolarisasi


Depolarisasi
Non Depolarisasi
Sediaan
Suksinilkolin, dekametonium

Tubokurarin/kurare, Atrakurium Besilat, vekuronium, matokurin, alkuronium, Pankuronium (Pavulon), galamin, fasadinium, rekuronium,
indikasi
tindakan relaksasi singkat
pemasangan pipa endotracheal/spasme laring
tindakan relaksasi yg lama.
pada geriatri, kelainan jantung, hati, ginjal yang berat
durasi
5-10 mnt
30 mnt – 1 jam
fasikulasi
+
-
Obat antagonis
-
+ (antikolinesterase, mis: prostigmin)
lewat barier plasenta
- (aman pada SC)

Efek muskarinik
< 
+ (bradikardi, hipersekresi, cardiac arrest)
Hiperkalemi
+
-
Pelepasan histamin (hipotensi, hipersekresi asam lambung, spasme bronkhus)
+
Tubokurarin/kurare(+)
Pankuronium (-)
Efek samping
-      Menurunnya atau meningkatnya HR dan BP
-      Myalgia post op
-      Meningkat tekanan intragaster, intraokuler dan intrakranial
-      Malignant hyperthermia
- Myoklonus

  • Durasi
    • Ultrashort (5-10 menit): suksinilkolin
    • Short (10-15 menit) : mivakurium
    • Medium (15-30 menit) : atrakurium, vecuronium
    • Long (30-120 menit) : tubokurarin, metokurin , pankuronium, pipekuronium, doksakurium, galamin

  • Efek terhadap kardiovaskuler
    • tubokurarin , metokurin , mivakurium dan atrakurium : Hipotensi pelepasan histamin dan (penghambatan ganglion)
    • pankuronium : menaikkan tekanan darah
    • suksinilkolin : aritmia jantung
Antikolinesterase
à antagonis pelumpuh otot non depolarisasi
  1. neostigmin metilsulfat (prostigmin)
  2. pitidostigmin
  3. edrofonium
- fungsi: efek nilotinik + muskarinik à bradikardi, hiperperistaltik, hipersekresi, bronkospasme, miosis, kontraksi vesicaurinaria
- pemberian dibarengi SA untuk menghindari bradikardi. (2:1)

MAC (Minimal Alveolar Concentration)
à konsentrasi zat anestesi inhalasi dalam alveoli dimana 50% binatang tidak memberikan respon rangsang sakit
Halotan           : 0,87%
Eter                 : 1,92%
Enfluran          : 1,68%
Isofluran          : 1,15%
Sevofluran       : 1,8%

Obat Darurat
Nama
Berikan bila
Berapa yang diberikan?
Efedrin

TD menurun >20% dari TD awal (biasanya bila TD sistol <90 data-blogger-escaped-diberikan="" data-blogger-escaped-o:p="">

2 cc spuit
Sulfas atropin
Bradikardi (<60 data-blogger-escaped-o:p="">
2 cc spuit
Aminofilin
bronkokonstriksi
5 mg/kgBB
Spuit à 24mg/ml
Dexamethason
Reaksi anafilaksis
1 mg/kgBB
Spuit à 5 mg/cc
Adrenalin
Cardiac arrest
0,25 – 0,3 mg/kgBB, 1 mg/cc (teori)
Prakteknya à beri sampai aman
Succinil cholin
Spasme laring
1 mg/kgBB (1cc spuit à
komentar | | Read More...

STADIUM ANESTESI

STADIUM ANESTESI
Stadium 1 : 
Stadium analgesia atau disorientasi
- Induksi ® kesadaran hilang
- Nyeri (±) o.k bedah kecil
- Berakhir : refleks bulu mata hilang

Stadium 2 : 
stadium hipersekresi atau eksitasi atau delirium
- Kesadaran (-)/ refleks bulu mata (-) ----- ventilasi teratur
- Terjadi depresi pada ganglia basalis ® rx berlebihan bila ada rangasang
   (hidung, cahaya, nyeri, rasa, raba)

Stadium 3 :
Disebut Stadium Pembedahan; ventilasi teratur ---- apneu, terbagi 4 plana :
Plana 1:- Ventilasi teratur : torako abdominal
            - Pupil terfiksasi, miosis
            - Refleks cahaya (+)
            - Lakrimasi ­
            - Refleks faring dan muntah (-)
            - Tonus otot mulai ¯

Plana 2 :- Ventilasi teratur : abdominaltorakal
            - Volume tidal ¯
            - Frekuensi nafas ­
            - Pupil : terfiksasi ditengah, midriasis
            - Refleks cahaya ¯
            - Refleks kornea (-)

Plana 3 :- Ventilasi teratur : abdominal dgn kelumpuhan saraf interkostal
            - Lakrimasi (-)
            - Pupil melebar dan sentral
            - Refleks laring dan peritoneum (-)
            - Tonus otot ¯

Plana 4 : - Ventilasi tidak teratur dan tidak adequat ok otot diafragma
                  lumpuh  (¯ tonus otot tidak sesuai volume tidal)
- Tonus otot ¯¯
- Pupil midriasis
- Refleks sfingter ani dan kelenjar lakrimalis (-)

Stadium 4 : 
Stadium paralisis
- Disebut juga stadium kelebihan obat.
- Terjadi henti nafas sampai henti jantung


Ventilasi normal :
            - Wanita dewasa : dominan abdomen (diafragma)
            - Pria dewasa : dominan torakal

Pupil
Pada pupil yang diperhatikan : - gerak
                                                            - fixasi posisi pupil
  • Stadium I : tidak melebar karena psikosensorik dan pengaruh emosi
  • Stadium II : pupil midriasis karena rangsang simpatik pada otot dilatator
  • Stadium III : pupil mulai midriasis lagi karena pelepasan adrenalin pada anestesi dengan eter atau siklopropan tapi tidak terjadi pada halotan dan IV

Stadium pembedahan : pupil terfiksasi ditengah dan ventilasi teratur
Anestesi dalam (kelebihan dosis) :
            - Pupil dilatasi maksimal ok paralisis N.kranialis III
            - Ventilasi perut dan dangkal
Sebab lain pupil midriasis :
1.      Saat induksi : o.k sudah setengah sadar (sub concious fear)
2.      Premedikasi atropin tanda opiat
3.      Hipoksia
4.      Syok dan perdarahan

Refleks bulu mata
            N : sentuhan ® berkedip (kontraksi)
            (-) : akhir stadium I, awal stadium II
Refleks kelopak mata
            N : tarik kelopak mata ® ada tarikan (kontraksi)
            (-) : awal stadium III
Refleks cahaya :
            N : Pupil miosis
            (-) : Stadium 3 plana 3
komentar | | Read More...
 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger